drowning

my man

Semua perlahan menjadi tiada berbatas, awalnya kabur kelamaan makin nyata dan tiada pembeda. Antara batas nyata dan khayal, antara mimpi dan kenyataan, antara perempuan itu dan lelakinya.

Wanita itu lebih banyak diam tanpa ekspresi. Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard PCnya merangkai beberapa kalimat formal yang sudah dihafalnya di luar kepala. Pada saat bersamaan, pikirannya menerawang jauh, jauh dari tempat duduknya sekarang. Keluar dari gedung itu, melintasi jalan raya yang tetap ramai oleh kendaraan pribadi, melintasi dimensi waktu pada siang itu.

Fragmen terulang lengkap dengan detail terkecilnya. Semua dialog kembali terucap, kembali terdengar, tanpa kehilangan dengan titik koma tanda jeda. Pun setting peristiwanya sempurna, lengkap dengan para pemeran figurannya. Emosi pun berhasil tertangkap dengan jelas, persis seperti reka ulang.

Mulut wanita itu tanpa sadar melafalkan monolog dengan suara lirih, lebih keras dari berbisik. Pandangannya tetap ke arah flat monitornya, namun bukan berkonsentrasi atas apa yang ditulisnya. Otaknya mengantarkan semua rangsang, mengerahkan kekuatan penuh untuk menggali bagian yang telah terkubur oleh jalinan sinapsis-sinapsis baru untuk kesempurnaan kelanjutan kata dalam monolog.

Aktifitas wanita itu berhenti seketika, jari-jarinya diam dan beku di atas deretan keyboard. Pikirannya sepenuhnya terkuasai.  Kata demi kata yang biasa dirangkainya dengan mata terpejam, hilang tiba-tiba. Wanita itu terasuki dengan sempurna.

***

Wanita itu tergesa membereskan meja kerjanya, mengganti sendal jepitnya dedistorsi waktungan sepatu terbaiknya. Limabelas menit yang lalu, lelakinya sudah berjarak tak jauh dari tempatnya sekarang. Matahari sore masih tampak, bersiap akan tenggelam.  Tidak seperti biasanya, dia ingin kali ini dia yang menyambut kekasihnya dengan kerinduan yang ditumpuknya sejak delapanbelas jam yang lalu.

Dia duduk manis di bangku kayu bersandarkan tembok pemisah kantornya dengan bangunan disebelahnya. Matahari mulai tenggelam, lima menit wanita itu baru menunggu.

Sepuluh menit berlalu, wanita itu masih setia menunggu dengan hati berbunga dan muka berseri. Jarinya lincah menekan keypad HPnya mengirimkan semua getar cintanya ke lelakinya.

Pukul sembilan kurang 10 menit, sudah hampir seluruh karyawan kantornya berpamitan pada wanita itu yang masih duduk manis.

Kepalanya masih tertunduk mengamati layar HPnya, adrenalinnya meningkat menanti jawaban dari sebrang. Seseorang menepuk pundak kirinya, pelan. Tangan kanan wanita memegang tangan itu dan mengelusnya hangat dengan sisa-sisa blush on di pipinya. Wanita itu begitu menikmati, meresapinya, menghirup aromanya sampai dengan tarikan nafas terdalamnya. Sentuhan tangan yang dirindukannya sejak duapuluhdua jam yang lalu.

“Ta, pulanglah… kamu masih sama, masih setia mengharapkanku dan menyisakan ruang di hatimu. Tapi, aku sudah dimiliki ruang hati yang lain…”

Elusan pipi si wanita  ke tangan lelaki itu mendadak berhenti. Wanita itu bangun dari duduknya, berusaha sekuat tenaga mengangkat kepalanya dan menatap empunya tangan di pundak kirinya. Itu benar-benar dia.

Menatap lelaki itu dengan dalam dan lama, menumpahkan semua kerinduannya yang dipendamnya. Tak ada yang terlewat, setiap senti permukaan luar tubuh lelakinya dan ingatannya akan semua lekuk badan lelakinya.

Perlahan, raut wajah wanita itu berubah pias, saat dilihatnya benda berkilau terlingkar di jari manis tangan kanan lelakinya dan sejuta fragment bertubi-tubi tampil di hadapannya, mengembalikannya ke kesadaran tingkat tinggi tentang lelaki yang pernah menjadi miliknya di masa lalu.

“Ta, kumohon hentikan, aku telah memutuskan untuk berhenti menyesal….” ujar lelaki itu lemah sebelum dia berbalik dan meninggalkan wanita itu.

Advertisements

4 thoughts on “drowning

  1. segitu dulu, sya..besok2 kalo sempet saya mampir di cerita lainnya ya. minggu depan senin dan selasa saya byk kerjaan. mungkin rabu or kamis malam saya cek lagi cerpenmu yg lain ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s