swinging

Kamu tahu betapa senangnya hatiku melihatmu di sebrang jalan tadi? Tiada ku pedulikan ramainya lalu  lintas untuk segera mendekatimu dan meyakinkan bahwa aku tidak bermimpi. Thanks God, bukan fatamorgana. Itu benar-benar kamu, the whole you.

Ingin rasanya kudekap dirimu erat dan tak kulepaskan, melepaskan semua kesadaran akan norma dan nilai yang berlaku. Tapi alam sadarku masih bekerja dan ragaku mengurungkan niatnya.

Malu? aku tak peduli lagi! bertemu denganmu adalah kesempatan yang tak ternilai, tapi sayangnya aku tak cukup berani untuk menukarnya dengan ikatan sehidup semati.

Kita masih terlalu kikuk & garing untuk berkomunikasi, itu wajar. Mengingat apa yang telah aku lakukan padamu atas nama membalas semua rasa cintamu. Maafkan aku, tapi semua sudah terlanjur dan itu jalan terbaik untuk kita.

Kamu masih seperti dulu, lebih banyak diam. Aku tahu kamu juga masih menginginkanku, saat mata kita bertemu. Masih bersemu merah ketika tebakanku benar adanya.

Kamu kehilangan kata-kata untuk diucapkan, tapi tubuhmu yang berbicara. Jelas kita saling menginginkan satu sama lain, tapi sama-sama ragu dan penuh dengan seribu pertimbangan. Saat kugenggam tanganmu dan membawamu ke suatu tempat, kamu mengenggamnya balik. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini, kubawa kau ke suatu tempat di mana mulut & tubuhmu bisa berkata-kata.

Sebuah taman dengan ayunan di salah satu sisinya. Saat itu tidak begitu ramai anak2 yang bermain di taman.

“Duduklah, dan biarkan ku ayun, Ta”

Kamu menurut meski tanpa berkata apa-apa. Itu sudah cukup untukku.

Ku nikmati setiap detiknya menatapmu menjauhiku, meresapi wangi aroma rambut panjangmu ketika tepat di hadapanku. Kamu memejamkan mata menikmati ayunan itu. Entah apa yang kau pikirkan, aku tidak bisa lagi menebaknya. Sesekali tersenyum, sesekali tanpa ekspresi. Kamu masih diam tanpa kata-kata. Biarlah. Aku rela menemanimu dalam diam.

Aku kembali teringat, dulu aku baru mau menemanimu dalam diam jika aku bersalah padamu. Yah, kali ini pun aku bersalah besar padamu. Aku masih mengayunkanmu.

Tiba-tiba, tanganmu menangkap tanganku, juga menahan ayunan dengan kakinya untuk menghentikannya.

“Ki, cukup”katamu.

“Biarkan aku mengayunmu beberapa saat lagi, plis?”aku merengek seperti anak kecil. Kamu menggeleng dengan tersenyum kecil,  tapi tak terpaksa.

“Sudah sore, istrimu menunggumu di rumah kan?!”tanyamu menatapku dalam. Ta, kamu masih peduli dengan wanita itu? Wanita yang serupa dan kupilih sebagai pendampingku? Biarku puaskan hari ini bersamamu.

“Pulanglah, aku bisa mengayunnya sendiri dan meneruskannya selama kumau”lanjutmu lagi.

“Mengayunnya sendiri, Ta?”tanyaku asal. Entah apa maksudku bertanya retorik seperti itu.

“Ya..sendiri”jawabmu pendek. Kenapa kau jawab? Biarkan itu tak terjawab, membuatku terlihat bodoh di depanmu.

Aku masih menatapmu lekat, mencari sisa-sisa cinta dari tatapan matamu. Tak tersisa. Kamu membuang pandangan ke arah yang lain. Kamu takut aku masih menemukannya?

“Terimakasih untuk hari ini, Ki. Untuk membiarkan waktu terlewati tanpa kata untuk menjelaskan, untuk berargumentasi, untuk mengenang dan tanpa rasa”katamu lirih. Tanpa rasa katamu? Benarkah? Bukankah rasa yang penting, itu katamu?

Aku terdiam, masih menatapmu, menunggu kamu berkata-kata lagi. Bicaralah walau garing atau hanya sekedar basa basi yang selalu kita hindari sejak dulu.

swing it up

swing

Sepuluh menit berlalu dan kamu sepertinya memang sudah tidak berkeinginan untuk berkata lagi. Kamu terdiam, di ayunan yang statis menatap ke arah lain tanpa beban.

“Ki, sudah terlalu sore. Pulanglah, ada dia menunggumu disana”ucapmu lagi dan beranjak bangkit dari bangku ayunan itu.

“Ta…”aku menahanmu tetap duduk dan bibir kita bertemu saat mentari perlahan mulai tenggelam.

Advertisements

7 thoughts on “swinging

  1. aww,…aww…..

    hemmmm,….untuk pertama kalinya membaca tulisan ratuKu (kata pak E ) dengan nuansa yg berbeda,yg tidak kutemui di blog yg biasa kudatangi agak sedikit membuatku suprise 🙂

    aku pikir dirimu mati rasa hihihi :p

    tapi kisah ini membuatku ingin main ayunan tu,bersamanya…. 😀

  2. “Tak akan kusia-siakan kesempatan ini, kubawa kau ke suatu tempat di mana mulut & tubuhmu bisa berkata-kata…”

    ke taman ayunan?!!
    dari segala tempat yang bisa bikin cerita ini jadi cerita dewasa, yang bisa disebut…
    taman ayunan?!!

    maan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s