welcome greeting

Alhamdulillah sayang akhirnya pulang dari rumah sakit. Aku senang kamu di sini lagi.

Kalimat biasa yang diucapkan suami saya, yang membuat saya speechless. Saya tidak peduli itu hanya basa basi atau hanya sekedar welcome greeting, tapi saya yakin suami saya tulus :).

dan saya tidak salah mencintai lelaki ini :).

on the 1st night after i went back from hospital, 
on our bed, before we slept.

not plastic, it’s metal

Kulewati lagi rute yang pernah kau tunjukkan padaku. Disana berdiri bangunan megah, di pinggir jalan besar itu, kantormu.

“nah itu kantorku…”katamu saat itu.

….

dan kemarin malam,

“ow…. ini pabrik yang bikin produk2 plastik itu ya?”tanya spv saya ketika membaca nama depan kantormu.

“bukan plastik, mba, tapi metal yang buat loker di kantor kita itu loh…”kataku.

benar kan?

swinging

Kamu tahu betapa senangnya hatiku melihatmu di sebrang jalan tadi? Tiada ku pedulikan ramainya lalu  lintas untuk segera mendekatimu dan meyakinkan bahwa aku tidak bermimpi. Thanks God, bukan fatamorgana. Itu benar-benar kamu, the whole you.

Ingin rasanya kudekap dirimu erat dan tak kulepaskan, melepaskan semua kesadaran akan norma dan nilai yang berlaku. Tapi alam sadarku masih bekerja dan ragaku mengurungkan niatnya.

Malu? aku tak peduli lagi! bertemu denganmu adalah kesempatan yang tak ternilai, tapi sayangnya aku tak cukup berani untuk menukarnya dengan ikatan sehidup semati.

Kita masih terlalu kikuk & garing untuk berkomunikasi, itu wajar. Mengingat apa yang telah aku lakukan padamu atas nama membalas semua rasa cintamu. Maafkan aku, tapi semua sudah terlanjur dan itu jalan terbaik untuk kita.

Kamu masih seperti dulu, lebih banyak diam. Aku tahu kamu juga masih menginginkanku, saat mata kita bertemu. Masih bersemu merah ketika tebakanku benar adanya.

Kamu kehilangan kata-kata untuk diucapkan, tapi tubuhmu yang berbicara. Jelas kita saling menginginkan satu sama lain, tapi sama-sama ragu dan penuh dengan seribu pertimbangan. Saat kugenggam tanganmu dan membawamu ke suatu tempat, kamu mengenggamnya balik. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini, kubawa kau ke suatu tempat di mana mulut & tubuhmu bisa berkata-kata.

Continue reading

Bingkai kayu#2

curtain

next window

Hai apakabarmu? Maaf aku baru sempat menyapamu kembali.

Sudah beberapa hari ini, tirai tergerai sempurna di bingkai itu. Berkas sinar pun hanya terlihat dari ventilasi di atas bingkai itu.  Aku berharap kamu baik-baik saja karena ada banyak cerita yang akan aku ceritakan padamu.

Ups.. aku terlalu egois ya? Hanya ingin bercerita tentang diriku saja tanpa menawarkan waktu untuk mendengarkan kisahmu selama ini.

Baiklah, kuralat kata-kataku. Apakabarmu beberapa hari ini? Aku sempat kehilangan warna kuning tembok kamarmu, aku kehilangan kamu. Kemana saja? Bahkan dalam mimpi pun kita tidak pernah lagi bertemu.

Puff… marahkah kau padaku?

Jangan menggerai tirai itu untuk menghindar dari ku, jangan selalu menunjukkan gulita saat aku menatapmu.

Biarkan tiraimu tersampir disalah satu sisi bingkai itu dan biarkan benderangnya menatap kuningnya tembokmu. Walau hanya menatapmu kurang dari semenit, itu sudah cukup untukku.

Tidak cukup untukmu? Oke… katakan padaku apa yang kau mau agar aku bisa menikmati pemandangan yang seperti biasanya.

Masih kurang cukup?  Oke, aku akan berdiri di situ menatapmu selama yang kau mau dan mendengarkan semua kisahmu dari masa kecilmu.

Oke, aku akan menitip salamku untukmu lewat tukang cuci yang biasa mencuci di tempatmu & tempatku, bagaimana? Salam persahabatan atau salam tempel?

Berhentilah diam, tertawalah, atau marahlah. Katakan sesuatu, tak apa walaupun kata yang akan kau ucapkan menyuruhku berhenti bicara.

Katakan sesuatu, singkap tirai itu, aku mohon.