naif

okey, mungkin saya naif atau ekspektasi saya terlalu tinggi dalam hal pertemanan.
Terlalu naif untuk memandang bahwa semua orang baik, semua orang TULUS mau berteman dengan saya. Padahal kenyataannya?
Hm… si A temenan sama saya karena ini, si B temenan sama saya karena itu. Yang intinya mereka semua punya maksud & tujuannya masing2 ketika berteman dengan saya.
Padahal, kalau sajah mereka tulus, tanpa mereka mintapun, saya mau kok kasi apa yang mereka butuhkan karena mereka adalah teman saya.

Juga tentang pertemanan saya dengannya, saya harap saya tidak lagi kecewa dalam pertemanan untuk yang kesekian kalinya.

Pernahkah kau merasa, bertemu dengan orang baru, melewati beberapa hari bersamanya, mengenalnya lebih dekat tentang kehidupannya yang keras dan seketika itu pula kita ngerasa deket ?

Saya merasakan itu dengan dia.
Dia yang pernah berbagi tentang cerita keluarganya, dan membuat saya bertanya2 kenapa dia segampang itu bercerita tentang kehidupannya kepada saya, orang yang baru dikenalnya beberapa waktu.
juga tentang kehidupan masalalunya yang keras, yang membuat saya bersyukur kalau kehidupan saya ternyata lebih mudah sehingga saya menjadi yang sekarang ini.
cyber lovenya, yang bikin saya speechless karena semua omongan saya waktu itu sama sekali tidak diindahkannya.

Sekali lagi, semoga saat ini saya tidak sedang naif & berharap terlalu tinggi kepada teman saya yang satu ini. Walau kemarin dia lebih terlihat seperti roti basi yang melempem karena ternyata maagnya kambuh & sisa atmosfer ujian masih terasa.
Pokoknya, saya ga pernah rela pisah kalo ketemu dengannya.

come back soon -_-

broken wings

tau apa saya tentang patah hati sehingga beberapa hari lalu, saya berulang2 ‘menasehati’ teman kos an saya.

Yup, kita dulu menjalani kisah yang sama. Jalan dengan seorang seorang yang kita coba paksakan untuk menjadi soulmate di jalur yang berbeda. Udah ketauan, akhir2nya stuck, buntu dan jalan di tempat. Pupus semua harapan, hilang separuh nafas ketika kita sama2 ga bisa memaksakan diri untuk saling me-soulmate-kan diri satu sama lain.

Ga ada kata menyerah, ga ada kata tentang berpaling. Sampai titik darah penghabisan pun, kami mau memperjuangkannya untuk semua hal, kecuali satu. KEYAKINAN. Hak asasi yang paling asasi, yang ga bisa ditawar2 lagi dan saatnya menyerah.

tapi saya yakin, pasti bisa kembali bangkit. pasti

 

awaiting

Aku bergegas keluar dari gedung kantorku, setelah sebelumnya menempelkan jempol sebagai tanda absensi. Di luar sana, ada salah satu rekanku duduk menunggu sambil memainkan HPnya. Kuhentikan langkah untuk berbincang sebentar dengannya.

“Eh Riz? belum dateng suami lo?”tanyaku.

“Iya nih belum…”jawabnya tersenyum kecil.

“Loh? kenapa ga tunggu di atas aja?”tanyaku lagi.

“Gapapa, sekali-kali gua yang nunggu dia. Kasian, biasanya kan dia yang nungguin gua”

Degh. Aku speechless.

“ow… okey, gua duluan ya…”lanjutku sembari berlalu darinya.

“ati ati yaa”balasnya.

Aku berlalu sambil terus berpikir selama perjalanan menuju kendaraan yang menjemputku.

…tak apa sekali-kali menunggu, karena biasanya ditunggu.

dan kalimat itu terus mengiang hingga detik ini…

jealousy

..dulu aku pernah ngomong juga kek gitu.. karena cemburu loh 😉

what kind of jealousy you’re talking about, dear? since there’s nothing between us. I should believe my heart said that there’s no pure friendship between man & woman. I did denied my heart saying and kept telling myself that only friendship between us, not more than that.

but now, i think I should always hear what my heart said.

No pure friendship exist.