swinging

Kamu tahu betapa senangnya hatiku melihatmu di sebrang jalan tadi? Tiada ku pedulikan ramainya lalu  lintas untuk segera mendekatimu dan meyakinkan bahwa aku tidak bermimpi. Thanks God, bukan fatamorgana. Itu benar-benar kamu, the whole you.

Ingin rasanya kudekap dirimu erat dan tak kulepaskan, melepaskan semua kesadaran akan norma dan nilai yang berlaku. Tapi alam sadarku masih bekerja dan ragaku mengurungkan niatnya.

Malu? aku tak peduli lagi! bertemu denganmu adalah kesempatan yang tak ternilai, tapi sayangnya aku tak cukup berani untuk menukarnya dengan ikatan sehidup semati.

Kita masih terlalu kikuk & garing untuk berkomunikasi, itu wajar. Mengingat apa yang telah aku lakukan padamu atas nama membalas semua rasa cintamu. Maafkan aku, tapi semua sudah terlanjur dan itu jalan terbaik untuk kita.

Kamu masih seperti dulu, lebih banyak diam. Aku tahu kamu juga masih menginginkanku, saat mata kita bertemu. Masih bersemu merah ketika tebakanku benar adanya.

Kamu kehilangan kata-kata untuk diucapkan, tapi tubuhmu yang berbicara. Jelas kita saling menginginkan satu sama lain, tapi sama-sama ragu dan penuh dengan seribu pertimbangan. Saat kugenggam tanganmu dan membawamu ke suatu tempat, kamu mengenggamnya balik. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini, kubawa kau ke suatu tempat di mana mulut & tubuhmu bisa berkata-kata.

Continue reading

Advertisements

freeze

freeze

freeze

Entah apa yang membawaku melangkahkan kaki keluar dari rumah untuk pergi ke toko buku di siang bolong seperti ini. Aku selalu takut aku akan melebur karena panasnya terik matahari.

Yah tertawalah dan katakan aku berlebihan, tapi hal itu benar adanya. Luki lah penawar leburku, saat dia pergi dariku, hilanglah sudah kekebalanku. Untunglah perlahan mentari menyembunyikan dirinya di antara awan-awan kelabu membuat langit menjadi mendung.

Aku berdiri di tepi jalan. Berdiri dengan posisi agak serong ke kanan, menunggu angkutan lewat menuju ke tujuan ketidakjelasanku. Sudah 10 menit berlalu, angkutan yang kutunggu tiada datang jua, sesekali kuubah posisiku untuk mengamati angkutan yang kumaksud dengan trayek yang berlawanan di ruas jalan sebrang.

Mengamati ramainya lalu lintas di ruas jalan sebrang dan pandanganku selalu berakhir di badan-badan angkutan yang silih berganti. Jarang sekali aku bisa melihat tepi ruas jalan sebrang dengan sempurna.

Arusnya perlahan melenggang dan aku bisa menangkap tepi ruas jalan itu lengkap dengan bangunan-bangunan yang menyertainya dan juga sosok yang terpaku disana, lurus menatapku lekat, mengunci mata & membuat aku berdiri kaku di posisiku.
Continue reading

Bingkai kayu#2

curtain

next window

Hai apakabarmu? Maaf aku baru sempat menyapamu kembali.

Sudah beberapa hari ini, tirai tergerai sempurna di bingkai itu. Berkas sinar pun hanya terlihat dari ventilasi di atas bingkai itu.  Aku berharap kamu baik-baik saja karena ada banyak cerita yang akan aku ceritakan padamu.

Ups.. aku terlalu egois ya? Hanya ingin bercerita tentang diriku saja tanpa menawarkan waktu untuk mendengarkan kisahmu selama ini.

Baiklah, kuralat kata-kataku. Apakabarmu beberapa hari ini? Aku sempat kehilangan warna kuning tembok kamarmu, aku kehilangan kamu. Kemana saja? Bahkan dalam mimpi pun kita tidak pernah lagi bertemu.

Puff… marahkah kau padaku?

Jangan menggerai tirai itu untuk menghindar dari ku, jangan selalu menunjukkan gulita saat aku menatapmu.

Biarkan tiraimu tersampir disalah satu sisi bingkai itu dan biarkan benderangnya menatap kuningnya tembokmu. Walau hanya menatapmu kurang dari semenit, itu sudah cukup untukku.

Tidak cukup untukmu? Oke… katakan padaku apa yang kau mau agar aku bisa menikmati pemandangan yang seperti biasanya.

Masih kurang cukup?  Oke, aku akan berdiri di situ menatapmu selama yang kau mau dan mendengarkan semua kisahmu dari masa kecilmu.

Oke, aku akan menitip salamku untukmu lewat tukang cuci yang biasa mencuci di tempatmu & tempatku, bagaimana? Salam persahabatan atau salam tempel?

Berhentilah diam, tertawalah, atau marahlah. Katakan sesuatu, tak apa walaupun kata yang akan kau ucapkan menyuruhku berhenti bicara.

Katakan sesuatu, singkap tirai itu, aku mohon.

pick me

wedding

wedding

Akhirnya aku berada di sini, bersama beberapa tamu yang mulai berdatangan dan beberapa kerabat & sanak saudaramu lalu lalang untuk memastikan semuanya akan berjalan lancar.

Aku duduk menenangkan diri. Mencoba memperlambat detak jantungku, mengatur adrenalinku dan menjaga semuanya agar bekerja dengan normal agar segenap perhatian penuh tertuju kepadamu.

Tuhan, aku seharusnya datang tidak sedini ini. Menunggu setengah jam acara dimulai bagaikan menunggu 1 abad.

Stupid!

Aku mengutuk diriku sendiri yang telah mempengaruhi otakku untuk melangkahkan kakiku ke tempat ini. Sama saja menggali kuburanku sendiri. Menatapmu menunggu mempelai wanita-cantikmu berjalan menuju altar, untuk saling mengucapkan janji setia sehidup semati

Continue reading