freeze

freeze

freeze

Entah apa yang membawaku melangkahkan kaki keluar dari rumah untuk pergi ke toko buku di siang bolong seperti ini. Aku selalu takut aku akan melebur karena panasnya terik matahari.

Yah tertawalah dan katakan aku berlebihan, tapi hal itu benar adanya. Luki lah penawar leburku, saat dia pergi dariku, hilanglah sudah kekebalanku. Untunglah perlahan mentari menyembunyikan dirinya di antara awan-awan kelabu membuat langit menjadi mendung.

Aku berdiri di tepi jalan. Berdiri dengan posisi agak serong ke kanan, menunggu angkutan lewat menuju ke tujuan ketidakjelasanku. Sudah 10 menit berlalu, angkutan yang kutunggu tiada datang jua, sesekali kuubah posisiku untuk mengamati angkutan yang kumaksud dengan trayek yang berlawanan di ruas jalan sebrang.

Mengamati ramainya lalu lintas di ruas jalan sebrang dan pandanganku selalu berakhir di badan-badan angkutan yang silih berganti. Jarang sekali aku bisa melihat tepi ruas jalan sebrang dengan sempurna.

Arusnya perlahan melenggang dan aku bisa menangkap tepi ruas jalan itu lengkap dengan bangunan-bangunan yang menyertainya dan juga sosok yang terpaku disana, lurus menatapku lekat, mengunci mata & membuat aku berdiri kaku di posisiku.
Continue reading

Advertisements