swinging

Kamu tahu betapa senangnya hatiku melihatmu di sebrang jalan tadi? Tiada ku pedulikan ramainya lalu  lintas untuk segera mendekatimu dan meyakinkan bahwa aku tidak bermimpi. Thanks God, bukan fatamorgana. Itu benar-benar kamu, the whole you.

Ingin rasanya kudekap dirimu erat dan tak kulepaskan, melepaskan semua kesadaran akan norma dan nilai yang berlaku. Tapi alam sadarku masih bekerja dan ragaku mengurungkan niatnya.

Malu? aku tak peduli lagi! bertemu denganmu adalah kesempatan yang tak ternilai, tapi sayangnya aku tak cukup berani untuk menukarnya dengan ikatan sehidup semati.

Kita masih terlalu kikuk & garing untuk berkomunikasi, itu wajar. Mengingat apa yang telah aku lakukan padamu atas nama membalas semua rasa cintamu. Maafkan aku, tapi semua sudah terlanjur dan itu jalan terbaik untuk kita.

Kamu masih seperti dulu, lebih banyak diam. Aku tahu kamu juga masih menginginkanku, saat mata kita bertemu. Masih bersemu merah ketika tebakanku benar adanya.

Kamu kehilangan kata-kata untuk diucapkan, tapi tubuhmu yang berbicara. Jelas kita saling menginginkan satu sama lain, tapi sama-sama ragu dan penuh dengan seribu pertimbangan. Saat kugenggam tanganmu dan membawamu ke suatu tempat, kamu mengenggamnya balik. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini, kubawa kau ke suatu tempat di mana mulut & tubuhmu bisa berkata-kata.

Continue reading