Bingkai kayu#2

curtain

next window

Hai apakabarmu? Maaf aku baru sempat menyapamu kembali.

Sudah beberapa hari ini, tirai tergerai sempurna di bingkai itu. Berkas sinar pun hanya terlihat dari ventilasi di atas bingkai itu.  Aku berharap kamu baik-baik saja karena ada banyak cerita yang akan aku ceritakan padamu.

Ups.. aku terlalu egois ya? Hanya ingin bercerita tentang diriku saja tanpa menawarkan waktu untuk mendengarkan kisahmu selama ini.

Baiklah, kuralat kata-kataku. Apakabarmu beberapa hari ini? Aku sempat kehilangan warna kuning tembok kamarmu, aku kehilangan kamu. Kemana saja? Bahkan dalam mimpi pun kita tidak pernah lagi bertemu.

Puff… marahkah kau padaku?

Jangan menggerai tirai itu untuk menghindar dari ku, jangan selalu menunjukkan gulita saat aku menatapmu.

Biarkan tiraimu tersampir disalah satu sisi bingkai itu dan biarkan benderangnya menatap kuningnya tembokmu. Walau hanya menatapmu kurang dari semenit, itu sudah cukup untukku.

Tidak cukup untukmu? Oke… katakan padaku apa yang kau mau agar aku bisa menikmati pemandangan yang seperti biasanya.

Masih kurang cukup?  Oke, aku akan berdiri di situ menatapmu selama yang kau mau dan mendengarkan semua kisahmu dari masa kecilmu.

Oke, aku akan menitip salamku untukmu lewat tukang cuci yang biasa mencuci di tempatmu & tempatku, bagaimana? Salam persahabatan atau salam tempel?

Berhentilah diam, tertawalah, atau marahlah. Katakan sesuatu, tak apa walaupun kata yang akan kau ucapkan menyuruhku berhenti bicara.

Katakan sesuatu, singkap tirai itu, aku mohon.

Advertisements

Bingkai kayu

menatapmu

menatapmu

Aku berhenti, di titik yang sama, di tempat yang sama. Di depan pintu kamarku. Tepat sebelum otak menghantarkan perintah lewat impuls untuk berbuat apa-apa selain memalingkan badan untuk menatapmu sesaat. Kamu masih di situ atau tepatnya selalu berada disitu.

Kamu masih terjaga. Lampumu masih benderang. Tiraimu masih berada disalah satu tepi bingkai jendela. Kamu masih beraktifitas rupanya. Penat sekali rasanya tubuh ini, aku duluan.

Aku mencari kunci kamarku dalam tasku dan menyegerakan untuk memasukinya. Kututup tirai sesaat untuk bertukar kostum dinas dan topeng  yang sedari pagi kukenakan. Nikmat rasanya melepas semua atribut dan menukarnya dengan pakaian rumahan berbahan katun yang nyaman.

Kasur busa yang tersedia di kamarku tiba-tiba terasa seperti kasur berisi bulu angsa yang lembut dan empuk ketika seluruh tubuh terhampar sempurna di atasnya. Dunia berubah menjadi tempat terindah, ternyaman, terbaik. Semua hal wajib terlupakan saat kelelahan telah terlampiaskan.

Aku bangkit, berjalan keluar dari kamar untuk sekedar merasakan sensasi air di kulit ku. Mataku kembali tertuju menatapmu. Masih benderang.

Nikmat merasakan setiap detik sensasi menyegarkan air di kulitku sampai akhirnya cukup pikirku mendapatkan esensi dari percikan air di kulitku. Melangkah keluar kamar mandi dan mendapatimu telah gulita. Nite nite dear, kan kuceritakan kisahku di hari esok.

Waktunya istirahat dan berharap akan memimpikanmu. Kita pasti bertemu nanti di dunia mimpi. Di tempat yang sama kan?

dying

dying

Aku terjaga dari mimpiku. Pukul 1 pagi, dini hari.Aya masih tertidur pulas di sampingku. Kutatap wajahnya, dia mirip kamu, Ta.

Kamu dalam bentuk yang berbeda, yang memungkinkan aku dan dia bersatu hingga sekarang dia menjadi satu-satunya wanita untuk berbagi tempat tidur yang sama. Ta, sekilas dia adalah kamu.

Continue reading